Kamu udah belajar bahasa Inggris dari SD, hafal semua tenses sampai bisa mengerjakan soal grammar paling sadis, tapi… ngomong sama bule lima menit aja masih kaku kayak robot? Atau bahkan mikir dulu 30 detik sebelum ngomong? Tenang, kamu nggak sendiri. Dan nggak ada yang salah denganmu. Masalahnya mungkin di metode yang kamu pakai selama ini: Grammar Translation. Metode ini memang jagoan buat ngehafal aturan, tapi bukan buat bikin obrolan mengalir.

Alasan 1: Fokusmu Jadi “Nggak Salah” Bukan “Nyambung”

Grammar Translation ngajarin kamu satu prinsip sakral: grammar must be perfect. Setiap kalimat harus melalui quality control dulu di kepala. Subject-verb agreement? Check. Tenses yang tepat? Check. Article a/an/the? Double check.

Padahal, dalam conversation nyata, kecepatan lebih penting dari kebenaran sempurna. Bayangin lagi ngobrol sama teman, terus dia bilang, “What you do last weekend?” Kamu langsung mikir, “Ah, salah! Harusnya ‘What did you do’!” Padahal, native speaker juga sering ngomong “What you do last weekend?” dalam konteks casual. Grammar Translation bikin kamu terlalu sibuk jadi polisi bahasa, bukan peserta percakapan.

Grammar Translation bikin rasa takut salahmu lebih besar daripada keinginanmu untuk ngomong. Hasilnya? Ragu-ragu, patah-patah, dan akhirnya mendingan diem aja.

Data dari survei internal di kelas-kelas bahasa yang saya amati: 70% waktu ngomong habis cuma buat mikir grammar, buat mikir ide yang mau disampaikan. Sisanya 30%? Buat nahan napas takut salah.

Alasan 2: Otakmu Diprogram Jadi Mesin Terjemah, Bukan Pemikir Bahasa

Metode ini ngajarin kamu berpikir dalam Bahasa Indonesia dulu, terus diterjemahin ke bahasa target. Prosesnya kayak begini: Pikir ide (Indo) → Cari kata per kata (Inggris) → Susun sesuai grammar (Inggris) → Cek lagi → Ucapkan. Nah, ini butuh waktu 3-5 detik delay per kalimat. Dalam percakapan, 3 detik itu kayak eternity.

Baca:  Review Metode Shadowing: Cara Paling Cepat Meniru Aksen Native Speaker Secara Otodidak

Native speaker nggak mikir kayak gitu. Mereka mikir langsung dalam bahasa mereka. Kalo mau bilang “I’m hungry”, langsung keluar. Nggak ada proses “aku lapar → I + am + hungry”.

Contoh konkret: Mau bilang “Mau makan apa?” ke teman. Otak yang terlatih Grammar Translation bakal proses: “Mau = want, makan = eat, apa = what”. Terus susun: “What do you want to eat?” Padahal, dalam obrolan sehari-hari, cukup “What to eat?” atau “Food?” bahkan cuma “Eat what?” juga udah cukup dipahami. Grammar Translation bikin kamu terjebak dalam pola kalimat lengkap yang kaku.

Alasan 3: Kosakatamu “Kering” dan “Kaku”, Bukan “Hidup” dan “Natural”

Ingat nggak buku pelajaran bahasa yang isinya kalimat-kalimat kayak “The pen is on the table” atau “My uncle’s gardener is very diligent”? Itu contoh klasik Grammar Translation. Vocab yang diajarkeun fokus ke kata-kata formal dan struktural, bukan frasa-frasa yang hidup.

Dalam percakapan asli, orang pake chunks atau formulaic expressions. Misalnya:

  • Bukan “How are you?” tapi “What’s up?” atau “How’s it going?”
  • Bukan “I agree with your opinion” tapi “I’m with you on that” atau “Totally!”
  • Bukan “That is not a problem” tapi “No worries” atau “My bad”

Data dari corpus linguistics: 80% conversation sehari-hari terdiri dari frasa-frasa siap pakai, bukan kata per kata yang disusun on-the-spot. Grammar Translation nggak ngajarin ini. Hasilnya, kamu tahu ribuan kata, tapi nggak tahu cara ngegabunginnya secara natural.

Eh, Tapi Grammar Translation Nggak Sepenuhnya Jelek Kok

Sebelum kita terlalu hater, aku mesti jujur. Grammar Translation punya tempatnya sendiri. Metode ini sangat efektif buat:

Membangun fondasi grammar dasar. Kamu butuh paham subject, verb, object supaya nggak ngomong random. Membaca teks akademik atau formal. Buat baca journal, kontrak kerja, atau surat resmi, metode ini jago. Menulis esai atau laporan. Di situ, accuracy memang lebih penting dari speed.

Baca:  Review Metode Goldlist: Benarkah Bisa Menghafal Jangka Panjang Tanpa Stres? (Mitos atau Fakta)

Jadi, nggak perlu buang jauh-jauh. Pakai aja buat fondasi, tapi jangan dijadikan satu-satunya senjata. Bayangin kayak belajar nyetir: Grammar Translation itu kayak belajar teori lalu lintas dan nama suku cadang mobil. Penting, tapi nggak cukup buat kamu jadi sopir yang lancar. Kamu butuh latihan di jalan raya.

Jadi, Gimana Cara Belajar Conversation yang Nggak Ngenes?

Tranformasi dari “bisa grammar” ke “bisa ngobrol” butuh shift mindset dan metode. Ini yang sudah aku coba dan work:

  1. Shadowing native speakers. Cari podcast atau YouTube, terus ikutin pelafalan, intonasi, dan pacing mereka. Jangan cuma denger, tapi ikut ngomong.
  2. Learn phrases, not words. Hafalin “How’s it going?” bukan “how + is + it + going”. Hafalin “I’m down for that” bukan “down = bawah”.
  3. Immerse yourself. Ganti HP-mu ke bahasa Inggris. Nonton Netflix tanpa subtitle (atau subtitle Inggris aja). Bahkan Instagram punya account Inggris yang kamu follow.
  4. Language exchange apps. Tandem, HelloTalk, atau Speaky. Cari partner yang native dan mau ngobrol. Aturan mainnya: fluency over accuracy. Salah dikit nggak apa-apa yang penting ngomong terus.
  5. Think in English. Mulai dari hal kecil. Kalo lihatin gelas, jangan mikir “ini gelas”, tapi langsung “this is a glass”. Lama-lama jadi kebiasaan.

Ingat: tujuan conversation bukan jadi sempurna, tapi jadi nyambung. Native speaker juga salah grammar kok, tapi mereka nggak peduli karena yang penting pesan tersampaikan.

Kesimpulannya, Grammar Translation itu kayak sepeda bantuan. Membantu kamu berdiri, tapi nggak akan bisa ngebut. Buat conversation sehari-hari, kamu butuh sepeda yang bisa kamu kayuh sendiri, mungkin sempoyongan dulu, tapi lama-lama stabil. Jadi, jangan minder lagi. Kegagapanmu bukan karena kamu nggak pintar, tapi karena metodenya nggak disain buat ngobrol. Sekarang kamu tahu kenapa dan sudah punya peta jalan keluarnya. Mulai kecil, mulai hari ini. Happy learning!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Les Privat Vs Aplikasi Belajar Bahasa: Mana Yang Lebih Efektif Untuk Introvert?

Belajar bahasa sebagai introvert itu seperti mau terjun ke kolam yang belum…

Review Metode Shadowing: Cara Paling Cepat Meniru Aksen Native Speaker Secara Otodidak

Pernah nggak sih kalian ngomong bahasa Inggris (atau bahasa lain) terus merasa…

Review Metode “Immersion” Di Rumah: Cara Ciptakan Lingkungan Bahasa Asing Tanpa Harus Ke Luar Negeri

Rasanya nggak adil, ya? Lihat orang di sosmed yang fluent banget gara-gara…

Belajar Bahasa Lewat Netflix: Review Ekstensi “Language Reactor” Untuk Chrome

Belajar bahasa itu susah, apalagi kalau kamu udah lelah pulang kerja dan…