Saya tahu persis rasanya. Dihantui rasa minder setiap kali mau ngomong bahasa Inggris, lalu mendadak nekat langganan aplikasi bahasa. Babbel jadi pilihan karena reputasinya yang “serius” tapi tetap modern. Tiga bulan berlalu, dan keputusan untuk berhenti bukan karena males, tapi lebih ke… hmm, mari kita bahas dulu yang bikin senang.

Yang Bikin Betah Dulu: Kelebihan Nyata Babbel

Pertama-tama, desain materinya rapi sekali. Kalau kamu tipe yang butuh struktur jelas seperti kurikulum sekolah, Babbel itu surga. Setiap pelajaran berdurasi 10-15 menit, sangat pas untuk sela-sela waktu. Saya bisa mengerjakan satu topik sambil nunggu kopi ngaduk sendiri.

Kedua, speech recognition-nya cukup sensitif. Nggak cuma “lolos” kalau ngomong asal-asalan. Saya pernah ucap “think” dengan suara lirih, dan sistem langsung minta diulang. Frustasi? Iya. Tapi ini memaksa saya untuk lebih peduli dengan pengucapan, bukan sekadar asal tahu.

Ketiga, konteks budaya di dalam kalimat contohnya relevan dengan kehidupan nyata. Nggak ada kalimat aneh seperti “the cat is reading a newspaper.” Justru banyak skenario percakapan di kantor, restoran, atau bandara. Ini bikin percaya diri kalau materinya memang bisa dipakai besok juga.

Data Konkret: Apa yang Didapat?

Selama 3 bulan (kurang lebih 90 hari), saya menyelesaikan 2 level lengkap dari Bahasa Inggris. Itu artinya sekitar 40 pelajaran inti plus 12 review. Total waktu belajar efektif? Kira-kira 18 jam. Cukup untuk bisa ngobrol dasar tentang pekerjaan dan hobi tanpa terlalu patah-patah.

Baca:  Hellotalk Vs Tandem: Mana Aplikasi Exchange Language Yang Paling Aman Dari Scammer?

Titik Frustrasi: Kekurangan yang Lama-lama Mengganggu

Masalah mulai muncul di bulan kedua. Kurangnya variasi format jadi bumerang. Setiap pelajaran hampir selalu sama: hafalkan kosakata, isi kosongan, ulangi kalimat. Setelah 50 kali, otak minta tantangan baru. Bosan itu musuh nomor satu dalam belajar mandiri.

Lalu, review system-nya terasa kaku. Babbel pakai spaced repetition, tapi algoritmanya nggak terasa “cerdas”. Saya masih sering disuruh ulang kata yang sudah hafal mati, sementara kata yang baru 2x lihat malah jarang muncul. Bandingkan dengan aplikasi lain yang review-nya lebih adaptif dengan kesalahan personal.

Harga juga faktor. Dengan Rp 149.000 per bulan (paket 3 bulan), saya mengharapkan lebih banyak konten interaktif. Tapi fitur live class yang mereka promosikan ternyata terbatas dan sering di jam yang nggak nyaman untuk zona waktu Asia. Jadi nggak kepakai sama sekali.

Mengapa Saya Akhirnya Berhenti?

Alasan utamanya sederhana: butuh interaksi manusia. Babbel bagus untuk fondasi, tapi saya sadar kemajuan nyata hanya terjadi saat berani ngobrol beneran. Dan untuk ngobrol, saya butuh lebih dari latihan monolog di depan layar.

Kedua, motivasi internal mulai terkikis. Tanpa feedback nyata dari tutor atau teman belajar, setiap kali buka aplikasi jadi terasa seperti tugas, bukan eksplorasi. Streak harian? Bukan motivasi buat saya. Malah jadi stres sendiri.

Ketiga, dari sisi nilai uang, saya menghitung ulang. Dengan budget 3 bulan Babbel, saya bisa ambil 4-5 kali sesi privat di platform lain. Meskipun durasinya lebih sedikit, intensitas interaksinya jauh lebih tinggi. Itu yang saya butuhkan saat ini.

Siapakah Babbel Sebenarnya Cocok Untuk?

Jangan salah, berhenti bukan berarti Babbel jelek. Ini hanya soal match dengan kebutuhan.

  • Co-founder terbaik untuk pemula absolut: Kalau kamu nol banget dan butuh arahan step-by-step tanpa bingung, Babbel nyaman banget. Nggak ada rasa “kebanyakan pilihan” yang bikin overload.
  • Pengguna sibuk yang butuh micro-learning: Punya 10 menit di commuter line? Satu pelajaran Babbel bisa selesai tepat waktu. Konsistensi di sini lebih penting dari intensitas.
  • Pelajar yang fokus grammar: Penjelasan tatabahasanya jelas dan tidak terlalu teknis. Cocok buat yang mau “paham kenapa” bukan cuma “bisa ngomong aja”.
Baca:  5 Aplikasi Belajar Bahasa Inggris Terbaik Untuk Melancarkan Speaking (Bukan Cuma Grammar)

Tapi, jangan harapkan keajaiban. Kalau tujuanmu lancar ngobrol dalam 3 bulan, kamu perlu kombinasi lain. Babbel itu fondasi, bukan gedungnya.

Kesimpulan: Jujur dari Hati

Babbel adalah aplikasi yang kerja keras tapi kurang kerja cerdas dalam menjaga motivasi. Ia memberi semua alat, tapi tidak memberi alasan kuat untuk tetap datang setiap hari setelah rasa semang awal memudar.

Keputusan berhenti bukan soal gagal, tapi sofokus. Saya butuh tantangan baru. Tiga bulan dengan Babbel memberi saya 350+ kosakata aktif dan keberanian untuk mulai. Itu investasi yang nggak sia-sia.

Jadi, jika kamu tipe yang disiplin mandiri dan butuh struktur, coba saja. Langganan 1 bulan dulu. Tapi kalau kamu seperti saya yang butuh interaksi dan variasi, mungkin ini saatnya coba metode lain. Belajar bahasa itu perjalanan panjang, nggak ada rute tunggal yang sempurna untuk semua orang. Yang penting, jangan berhenti belajar, meskipun berhenti langganan aplikasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Anki Flashcards Review: Cara Setting Deck Terbaik Untuk Menghafal 1000 Kosakata Jepang

Seribu kosakata Jepang. Anggapan ini sering jadi puncak ketakutan bagi pemula. Aku…

Kelemahan Aplikasi Elsa Speak Yang Jarang Dibahas: Baca Ini Sebelum Download

Pernah nggak sih kamu lihat iklan Elsa Speak di mana-mana, ngeliat review…

Hellotalk Vs Tandem: Mana Aplikasi Exchange Language Yang Paling Aman Dari Scammer?

Scammer di aplikasi language exchange itu kayak nyamuk di malam hari. Lo…

Review Lingodeer Vs Duolingo: Mana Yang Lebih Efektif Untuk Belajar Bahasa Korea Pemula?

Pernah nggak sih kalian buka Duolingo cuma buat nyobain “Korean 101” dan…