Pernah nggak sih kamu denger cerita “Pergi ke Pare, pulang speaking lancar kayak native”? Aku dulu iya. Bahkan sebelum berangkat, aku sudah bayangin diriku ngobrol sama bule tanpa canggung, grammar perfect, dan semua orang bakal terkesan. Tapi setelah 30 hari tinggal di sana, aku sadar ada jurang lebar antara ekspektasi dan realita. Dan ini cerita jujurku.

Ekspektasi vs Realita: Jurang yang Nggak Terduga
Datang ke Pare dengan mimpi besar itu wajar. Tapi biar nggak kaget, ini dia perbandingan langsung dari pengalamanku.
Ekspektasi: “Sebulan Pasti Lancar”
Aku kira satu bulan cukup untuk transformasi total. Bayanganku: bangun, belajar, ngomong Inggris terus, pulang dengan aksen yang legit. Realitanya? Progress itu nyata, tapi nggak instan. Aku masih ngumpat-ngumpat dalam hati kalau lupa kosakata, masih mikir grammar waktu ngomong. Bedanya, sekarang aku berani ngomong duluan, meski masih cadel.
Realita: “Full Immersion? Belum Tentu”
Konsep full immersion tergantung sekolah dan kelas yang kamu pilih. Ada yang benar-benar English area: salah ngomong印尼语 (Bahasa Indonesia) kena denda Rp 5.000 per kata. Tapi ada juga yang santai, mahasiswa masih ngobrol Jawa-印尼语 di luar kelas. Pilihannya di tanganmu.
Kelebihan Nyata yang Aku Rasakan
Sebulan di Pare bukan cuma soal belajar. Ini ecosystem yang unik. Ada beberapa hal yang memang susah ditiru di tempat lain.
- Harga yang Ramah Dompet: Biaya hidup murah meriah. Kosan Rp 400-800 ribu/bulan, makan Rp 15-25 ribu per porsi. Kursus intensif 3 jam/hari cuma Rp 300-500 ribu/bulan. Bandingin sama les privat di kota yang Rp 300 ribu per meeting.
- Komunitas Belajar Massif: Puluhan ribu pelajar dari berbagai daftar. Kamu nggak sendiri. Mager? Liat temen sekosan bangun jam 5 pagi ngulik vocab, malu-maluin jadi semangat. Ini efek peer pressure positif.
- Metode Praktis & Speaking-Oriented: Guru di sana fokus ke speaking practice. Nggak banyak teori. Role play, debate, storytelling. Jam terbang ngomong bisa 3-5 jam/hari kalau kamu aktif. Ini yang bikin fluency naik cepat.
- Bebas Coba-coba: Salah? Nggak ada yang judge. Semua lagi belajar. Aku pernah ngomong “I have many sheeps” di depan kelas, cuma ditertawain sambil dibenerin. Lingkungan aman buat buang rasa takut.
Kekurangan yang Harus Dihadapi Jujur
Nggak semua indah. Ada sisi gelap yang sebaiknya kamu tahu sebelum booking tiket.
- Kualitas Guru Nggak Seragam: Ada guru keren, lulusan sastra Inggris, pengalaman ngajar puluhan tahun. Ada juga yang… ya cukup lancar ngomong aja. Cek reputasi sekolah dulu. Tanya senior. Jangan asal pilih.
- Burnout Tinggi: Belajar 3-6 jam/hari, setiap hari, bisa bikin otak nge-blank. Apalagi kalau sebelumnya nggak pernah intensif ngomong Inggris. Minggu kedua aku pernah nangis di kosan, merasa nggak ada progress. Ini normal.
- Lingkungan yang “Basa-Basi”: Kadang kamu ngomong Inggris bukan karena butuh, tapi karena wajib. Interaksi jadi terasa buatan. Teman sekelas jadi “teman belajar” doang, bukan teman bercanda. Butuh effort ekstra buat dapet teman yang beneran.
- Fasilitas Standar: Jangan harap AC di setiap kelas atau wifi kencang. Banyak sekolah middle-low budget. Kelas bisa outdoor, kursi plastik, papan tulis kecil. Fokus ke belajar, bukan kenyamanan.

Tips Bertahan & Maksimalkan 30 Hari di Pare
Nggak ada yang namanya gagal, ada yang namanya nggak optimal. Ini cheat sheet dari aku biar kamu dapet hasil maksimal.
- Pilih Sekolah Sesuai Goal: Mau TOEFL? Cari yang spesialisasi tes. Mau speaking? Cari yang jam terbang ngomongnya tinggi. Research Instagram, baca testimoni detail, bukan cuma yang bagus-bagus.
- Tinggal di Kosan “English Area”: Ini yang paling bikin beda. Kosan yang punya aturan Inggris 24/7. Ya, di kamar mandi juga. Awkward di awal, tapi otakmu terpaksa mikir dalam Inggris.
- Atur Ulang Ekspektasi: Target realistis: “Aku mau lebih berani ngomong dan nambah 500 kosakata aktif”. Bukan “jadi lancar kayak bule”. Progress yang terukur bikin semangat tetap nyala.
- Jangan Skip “English Night”: Acara malam mingguan sekolah. Bisa open mic, film discussion, atau games. Ini waktu kamu kenal orang luar kelas dan praktik informal. Temenku dapet partner ngobrol rutin dari sini.
- Libur Aktif: Jangan libur hari-hari. Tapi kalau udah burnout, istirahat sehari penuh. Jalan-jalan ke Kediri, makan enak, nonton bioskop. Reset otak. Besoknya lebih segar.
- Catat Setiap Hari: Aku punya buku harian kecil. Tulis 3 kalimat tentang hari ini dalam Inggris. Nggak usah perfect. Ini bukti progress. Minggu ke-4, baca lagi dari hari pertama, pasti keliatan bedanya.
Ingat, sebulan di Pare itu maraton, bukan sprint. Kamu nggak akan pulang jadi native speaker. Tapi kamu pasti pulang sebagai versi dirimu yang lebih berani, punya skill praktis, dan tahu cara belajar yang efektif. Itu investasi seumur hidup.
Akankah Aku Kembali ke Pare?
Pertanyaan ini sering ditanyain. Jawabanku: iya, tapi dengan tujuan yang jelas. Kalau mau nge-boost speaking untuk interview kerja atau persiapan studi, 2-4 minggu di Pare masih pilihan paling cost-effective dan efisien. Tapi kalau mau mastery, butuh lebih dari sekadar sekolah intensif. Butuh tahunan praktik konsisten.
Yang pasti, pengalaman sebulan di Pare ngajarkanku satu hal: belajar bahasa itu soal keberanian, bukan perfection. Semua metode punya plus minus. Yang terpenting, kamu mulai dan konsisten. Jadi, buat kamu yang masih ragu, coba aja. Siapa tahu kamu bakal ketemu versi dirimu yang lebih keren di sana.