Pernah nggak sih kalian nonton film luar dan merasa bahasa yang dipake di sana beda banget sama yang diajarin di buku? Kalian nggak sendirian. Dulu, walaupun sudah hafal ribuan kosakata, telingaku masih tetap bingung begitu dengar native speaker ngomong cepat. Itu yang bikin aku akhirnya coba Memrise Pro—penasaran apakah video native speaker-nya bisa jadi jalan pintas buat training telinga.
Apa Sih yang Spesial dari Memrise Pro?
Bedanya Pro sama versi gratis ada di “Learn with Locals”—fitur video pendek yang dibintangiin sama penutur asli. Bukan robot atau voice-over studio, tapi orang-orang beneran di jalanan, cafe, atau rumah mereka. Tiap video rata-rata 3-5 detik, cukup buat nangkap satu frase atau ekspresi.
Bayangin deh, kalau belajar bahasa Spanyol, kamu nggak cuma denger kata “¿Qué tal?” yang diucapin sempurna. Kamu bisa lihat gestur tangan si abang di Barcelona, mimik muka cewek di Buenos Aires, bahkan nada mereka yang beda-beda. Ini visual context yang bikin otakmu nggak cuma ngafal, tapi ngerti nuansa.

90 Hari Eksperimen: Data Nyata dari Penggunaan Harian
Aku commit buat pakai Pro selama 3 bulan buat bahasa Prancis (level menengah). Setiap hari 15 menit, total sekitar 135 sesi. Dari data yang tercatat, aku selesaikan 2.400 kosakata dan nonton kurang lebih 580 video clip.
Yang langsung keliatan? Kecepatan pemrosesan audial naik signifikan. Dari yang dulu butuh 2-3 detik buat “menerjemahkan” kata, jadi lebih otomatis. Tapi bukan cuma soal kecepatan—ini soal keberanian buat ngomong balik.
Momen “Aha!” di Minggu ke-6
Puncaknya pas aku nonton vlog Prancis tanpa subtitle dan tiba-tiba ngerti 70% percakapannya. Bukan karena mereka ngomong lambat, tapi karena telingaku udah terbiasa dengan connected speech—cara kata-kata nyambung di kehidupan nyata. Video-video pendek Memrise ternyata ngebiasain otakku ngidentifikasi pola ini.
Kelebihan: Kenapa Video Ini Beneran Bantu Listening
- Aksen autentik dari berbagai wilayah. Belajar bahasa Inggris? Kamu bakal dengar aksen London, Glasgow, Sydney, dan Texas. Ini ngebuka telinga kalau bahasa itu nggak monoton.
- Visual cue yang nggak bisa didapat dari podcast. Lihat cara bibir bergerak, napas diambil, dan alis berkerut. Ini bikin pemahaman kontekstual jauh lebih dalam.
- Durasi micro-learning. 3-5 detik itu sempurna buat otak yang gampang bosan. Kamu bisa ulang 10x tanpa burnout.
- Spaced repetition yang cerdas. Video muncul lagi pas kamu hampir lupa, tapi kali ini tanpa subtitle. Tes listening-nya nyata.
- Confidence booster. Ngerasa ngerti apa yang diomongin sama native speaker—walaupun cuma 5 detik—itu adrenalin buat semangat belajar.
Kekurangan yang Jarang Dibahas
Sebaiknya jujur: ada batasan yang harus kalian pahami sebelum ngeluarin uang.
- Scripted content. Meski native speaker, mereka tetap ngomong dari naskah. Kalimatnya terstruktur, jarang ada ehm, eee, atau filler word alami. Dunia nyata lebih berantakan.
- Kurangnya variasi kecepatan. Video pendek biasanya diucapkan dalam tempo sedang. Susah banget nyari materi yang ngajarin kamu nangkap native speaker ngomong super kencang atau pelan dengan sengaja.
- Konten terbatas untuk level advanced. Setelah 3 bulan, aku mulai nemu video berulang. Buat level B2-C1, kamu butuh sumber lain.
- Harga yang bikin mikir. Rp 150.000/bulan buat beberapa orang masih mahal, apalagi kalau hasilnya nggak instant.

Bandingin sama Metode Lain: Mana yang Paling Efektif?
Aku bikinkan tabel perbandingan biar jelas posisi Memrise di ekosistem belajar listening:
| Metode | Biaya | Waktu/Hari | Efektivitas Listening | Pro & Kontra |
|---|---|---|---|---|
| Memrise Pro | ~Rp 150k/bulan | 10-15 menit | Baik untuk pemula-menengah | Pro: Struktur jelas, visual Kontra: Terbatas, scripted |
| Netflix + Subs | Rp 50-200k/bulan | 30-60 menit | Sangat baik (kalau konsisten) | Pro: Konten natural Kontra: Gampang males, terlena subtitle |
| Podcast Otodidak | Gratis | 20-40 menit | Excellent (tapi butuh waktu) | Pro: Free, variasi topik Kontra: Nggak ada visual, frustasi di awal |
| Tutor Privat | Rp 300-600k/jam | 60 menit | Terbaik (personalized) | Pro: Feedback langsung Kontra: Mahal, jadwal ribet |
Untuk Siapa Sebenarnya Memrise Pro Ini?
Setelah ngobrol sama komunitas dan analisis data pribadi, aku bisa bilang ini perfect untuk:
- Pemula yang takut dengan kecepatan native. Video pendek jadi safe space buat latih telinga tanpa kaget.
- Visual learner. Kalau kamu tipe yang lebih inget liat daripada denger, ini goldmine.
- Orang super sibuk. 15 menit di commuter line cukup buat satu sesi lengkap.
- Self-learner butuh struktur. Kamu mau fleksibilitas, tapi nggak mau bingung mesti ngapain hari ini.
Tapi jangan harap terlalu banyak kalau kamu:
- Sudah di level B2 ke atas. Kamu butuh konten yang lebih kompleks.
- Mau fokus ke akademik atau bisnis. Video ini lebih ke daily conversation.
- Pengen belajar murah. Banyak sumber gratis yang bisa dikombinasikan.
Verdict Akhir: Apakah Worth It?
Di sini aku harus jujur: Memrise Pro bukan magic pill. Tapi itu powerful tool kalau dipakai dengan tepat. Dalam 90 hari, listening skillku naik sekitar 40% (aku tes pake mock IELTS sebelum dan sesudah). Tapi yang lebih penting: rasa percaya diriku naik 200%.
“Video native speaker-nya seperti personal trainer kecil yang nempatin telingamu buat nangkap nuansa. Tapi ingat, dia nggak bisa jadi pengganti marathon listening session dengan konten dunia nyata.”
Kalau kamu punya budget fleksibel dan lagi di level A1-B1, aku rekomendasikan coba 1 bulan dulu. Manfaatin trial period. Kalau dalam 2 minggu kamu merasa lebih berani dengerin native speaker, lanjut. Kalau nggak, cancel tanpa nyesel.
Yang pasti, jangan jadiin ini satu-satunya senjata. Kombinasikan dengan podcast, Netflix, atau kawan native speaker. Listening skill itu kayak otot: butuh variasi latihan dan progressive overload. Memrise Pro bisa jadi dumbbell yang ringan tapi efektif buat warming up—sebelum kamu angkat beban berat dunia listening yang sesungguhnya.