Sebagai seorang yang sudah nyobain berbagai metode belajar bahasa—dari kelas formal, aplikasi, sampai les privat—saya sering ditanya sama teman-teman orang tua: “Gimana sih Kumon bahasa Inggris itu? Anakku jadi bisa ngobrol atau cuma jago grammar aja?” Pertanyaan ini nggak pernah gampang dijawab, karena jawabannya… ya, tergantung. Tergantung ekspektasi lo, tergantung gaya belajar anak, dan tergantung seberapa aktif lo sebagai orang tua di rumah.
Jadi, daripada ngasih jawaban “yes or no” yang sihir, mari kita bahas bareng-barang. Ini review jujur dari pengalaman pribadi dan observasi terhadap puluhan anak yang pernah saya temui di perjalanan belajar bahasa.
Kenalan Dulu: Apa Sih Kumon Itu?

Kumon itu bukan sekadar “kursus bahasa Inggris”. Ini adalah metode belajar asal Jepang yang lebih fokus pada pembentukan kebiasaan dan disiplin belajar. Sistemnya sederhana: anak datang ke center 1-2 kali seminggu, dapat worksheet, lalu mengerjakan worksheet itu setiap hari di rumah. Yes, setiap hari. Tanpa minggir.
Yang bikin unik: materi disusun secara spiral dan incremental. Anak nggak akan “loncat-loncat”. Mereka harus menguasai satu konsep super duper sempurna sebelum naik level. Salah satu soal aja masih? Ya, ulang lagi.
Kelebihan Kumon yang Nggak Bisa Dipungkiri
Sebelum kita kritik, kita harus akui: Kumon punya kekuatan yang luar biasa di beberapa aspek. Ini bukan sekadar hype.
1. Kebiasaan Belajar Hari-Hari
Ini yang paling berharga. Anak kecil belajar bukan dari “semangat sesaat”, tapi dari rutinitas. Kumon memaksa anak untuk duduk 10-30 menit setiap hari (tergantung level) untuk mengerjakan worksheet. Lama-lama, ini jadi kebiasaan. Anak nggak perlu dibikin “mood” dulu. Mereka cuma tahu: “Oh, jam 5 sore, waktunya Kumon.” Done.
Contoh konkret: Anak teman saya, usia 7 tahun, baru 8 bulan di Kumon. Awalnya nangis-nangis karena “bosen”. Sekarang? Dia malah inget sendiri kalau lupa mengerjakan. Kebiasaan ini nggak cuma berlaku untuk bahasa Inggris, tapi nempel ke pelajaran lain.
2. Penguatan Grammar Tanpa Disadari
Worksheet Kumon dipenuhi dengan drilling kalimat sederhana: “This is a pen”, “I am a boy”, “He likes apples”. Membosankan? Bisa jadi. Tapi efeknya? Anak jadi otomatis tahu struktur kalimat. Mereka nggak perlu mikir “eh, pakai ‘is’ atau ‘are’ ya?” karena sudah terlatih ratusan kali.
Ini seperti belajar sepeda. Awalnya lo mikir “kaki kanan, kiri, seimbang”. Lama-lama jadi reflex. Grammar Kumon itu reflex-nya bahasa Inggris.
3. Rasa Percaya Diri dari “Nggak Bisa” ke “Bisa”
Sistem level Kumon bikin anak merasakan small wins terus-menerus. Naik satu level? Ada test khusus. Lulus? Dapat sertifikat kecil. Anak merasa “aku hebat”. Ini penting banget untuk anak yang minder atau yang pernah “gagal” di sekolah.

4. Tanpa Teknologi, Tanpa Gangguan
Di era anak melek HP sejak bayi, Kumon menawarkan sesuatu yang langka: belajar fokus tanpa layar. Cuma buku, pensil, dan waktu. Ini latihan attention span yang sangat berharga.
Kekurangan Kumon: Ini yang Harus Lo Tahu Sebelum Daftar
Nah, sekarang kita masuk ke bagian “jujurnya”. Kumon bukan sempurna. Bahkan, kalau tujuan lo adalah anak bisa ngobrol lancar, ada beberapa batasan besar yang harus lo pahami.
1. Conversation? Hampir Nol
Ini jawaban untuk pertanyaan di judul: Kumon itu BUKAN metode conversation. Siswa nggak diajak ngobrol sama instruktur. Mereka cuma datang, mengerjakan worksheet, dibilangin “bagus” atau “perlu perbaiki”, dan pulang.
Instruktur Kumon lebih berperan sebagai facilitator bukan conversational partner. Jadi, jangan harap anak lo jago small talk hanya dari Kumon. Itu mustahil.
2. Drilling yang Membosankan
Kata “drilling” di judul itu bener adanya. Anak akan mengerjakan puluhan soal dengan pola yang sama. “She goes to school”, “He goes to school”, “They go to school”. Ini efektif untuk internalisasi, tapi ya… bisa bikin anak bosan kalau nggak didampingi dengan baik.
3. Fokus pada Reading & Grammar, Bukan Listening & Speaking
Worksheet Kumon 90% adalah reading comprehension dan grammar exercise. Listening dan speaking? Nggak ada. Jadi, anak lo bisa jadi jago baca dan tulis, tapi pas disuruh ngomong sama bule, langsung cungkuk.
4. Harga yang Cukup Mahal untuk “Cuma Worksheet”
Biaya Kumon di Indonesia sekitar Rp 500.000 – Rp 800.000 per bulan (tergantung kota). Untuk itu, lo cuma dapat worksheet, sedikit guidance, dan ruangan AC. Banyak orang tua yang merasa “nggak worth it” karena merasa bisa cetak worksheet sendiri di rumah.
Deep Dive: Detail Metode yang Perlu Lo Pahami
Biar nggak cuma ngomong “asal jelek” atau “asal bagus”, aku kasih detail konkret soal sistemnya.
Struktur Level Kumon
Kumon punya level dari 7A (paling dasar) sampai O (paling advanced). Untuk bahasa Inggris, level-levelnya fokus pada:
- Level 7A-5A: Pengenalan huruf, phonics dasar
- Level 4A-2A: Pemahaman kalimat sederhana, vocabulary dasar
- Level A-C: Grammar fundamental (tenses, prepositions, conjunctions)
- Level D-F: Reading comprehension, paragraph structure
- Level G-I: Analisis teks, inferensi, critical reading
- Level J-O: Literature, critical thinking, advanced grammar
Target: anak selesai level O saat SMA. Tapi, rata-rata anak lokal selesai di level F-G saja karena bosan atau merasa “cukup”.
Contoh Worksheet Nyata
Biar lo bayangin, ini contoh worksheet level B (kelas 2-3 SD):
“Choose the correct verb: He (go / goes) to school every day.”
Lalu ada 20 soal serupa dengan subjek berbeda. Di halaman selanjutnya, anak diminta membaca paragraf pendek dan menjawab pertanyaan: “What does Tom do every morning?”
Itu saja. Nggak ada “Let’s practice with a partner!” atau “Listen and repeat!”
Peran Instruktur di Center
Instruktur Kumon nggak “mengajar” dalam arti klasik. Mereka:
- Memeriksa hasil pekerjaan anak sebelumnya
- Memberikan worksheet baru sesuai level
- Memberikan instruksi singkat (5-10 menit) kalau anak stuck
- Memberikan motivasi dan reward (stiker, sertifikat)
Interaksi verbal minimal. Jadi, anak yang butuh “warming up” atau butuh diajak ngobrol, nggak akan dapat itu di sini.

Efektivitas untuk Conversation: Fakta vs Harapan
Mari kita jawab pertanyaan utama: Apakah Kumon efektif untuk conversation?
Jawaban singkat: Tidak langsung.
Jawaban panjang: Kumon memberikan foundation yang kuat untuk conversation, tapi nggak akan bikin anak lancar ngomong. Analoginya seperti ini:
- Kumon = latihan push-up, sit-up, dan plank setiap hari
- Conversation = main basket atau sepakbola
Push-up bikin lo kuat, tapi nggak otomatis bikin lo jago dribble. Lo butuh latihan dribble-nya secara spesifik.
Apa yang Kumon Berikan untuk Conversation:
- Vocabulary otomatis: Anak tahu “go, goes, went, gone” tanpa mikir
- Grammar reflex: Anak nggak bingung “I am” vs “I is”
- Kepercayaan diri: Anak nggak takut salah karena sudah terlatih
Apa yang HARUS Ditambahkan untuk Conversation:
- Speaking practice: Role play, storytelling, atau sekadar ngobrol tentang hari mereka
- Listening exposure: Film kartun, lagu, atau podcast anak-anak
- Interactive partner: Orang tua, tutor, atau teman yang mau diajak ngobrol
Membandingkan Kumon dengan Metode Lain
Biar lo makin jelas, ini perbandingan singkat dengan metode populer lain:
| Aspek | Kumon | English First (EF) | Private Tutor | Aplikasi (Duolingo, etc) |
|---|---|---|---|---|
| Fokus Utama | Grammar, Reading, Disiplin | Speaking, Listening, Conversation | Customizable | Vocabulary, Game-based |
| Frekuensi | Setiap hari (worksheet) | 2x seminggu (kelas) | 1-2x seminggu | Bebas |
| Interaksi | Minimal | Banyak (kelas interaktif) | Sangat banyak (1-on-1) | Minimal (AI/chatbot) |
| Biaya per bulan | Rp 500-800 ribu | Rp 1-2 juta | Rp 1-3 juta | Rp 0-200 ribu |
| Keuntungan utama | Kebiasaan, foundation kuat | Conversation langsung | Personalized, cepat | Murah, fun |
| Kekurangan utama | Membosankan, nggak speaking | Mahal, progress lambat | Mahal, tergantung tutor | Kurang struktur, grammar lemah |
Tips Praktis untuk Orang Tua: Gimana Cara Pakai Kumon dengan Bijak
Kalau lo sudah mendaftar atau lagi pertimbangkan, ini strategi agar Kumon nggak jadi “pemborosan uang” tapi jadi “investasi” yang tepat:
1. Kombinasikan dengan “English Time” di Rumah
Setelah anak selesai mengerjakan worksheet Kumon (10-20 menit), langsung alihkan ke aktivitas speaking:
- Tanya: “What did you learn today?” (pakai Bahasa Inggris)
- Suruh anak ceritakan worksheetnya dengan kata-katanya sendiri
- Main game sederhana: “I spy with my little eye…”
2. Jangan Terlalu Lama di Level Rendah
Kalau anak sudah ngerti konsepnya tapi masih disuruh drilling berulang kali, lo bisa request ke instruktur untuk accelerate. Kumon memang menekankan repetition, tapi nggak ada aturan baku. Lo punya hak sebagai orang tua.
3. Jadikan Worksheet sebagai “Bahan Obrolan”
Jangan biar anak cuma mengerjakan dan diam. Ambil satu soal, lalu expand:
“He goes to school every day.”
Tanya anak: “What time do YOU go to school? Do you walk or take a car? Who do you go with?”
4. Tambahkan Media yang FUN
Kumon itu kering. Balikin “fun”-nya dengan:
- Film kartun tanpa subtitle (Phineas & Ferb, Bluey)
- Lagu anak-anak di Spotify (Super Simple Songs)
- Aplikasi speaking gratis seperti Speakly atau HelloTalk Kids
5. Evaluasi Setiap 3 Bulan
Tanya diri lo: “Apakah anakku masih excited? Apakah dia maju? Apakah ada progress di sekolah?” Kalau jawabannya “tidak” tiga kali, mungkin saatnya berhenti atau ganti metode.
Kesimpulan: Untuk Siapa Kumon Itu dan Bukan untuk Siapa
Seperti yang aku janjikan di awal: nggak ada metode yang sempurna untuk semua orang. Kumon itu efektif untuk:
- Anak yang butuh struktur dan disiplin
- Anak yang masih nol besar dan butuh foundation kuat
- Orang tua yang sibuk dan butuh metode “hands-off” (tapi tetap harus monitoring!)
- Anak yang mudah bosan dengan teknologi dan butuh “digital detox”
Kumon itu kurang cocok untuk:
- Anak yang sudah bisa basic dan butuh conversation practice langsung
- Anak yang sangat kreatif dan nggap worksheet itu “membunuh imajinasi”
- Orang tua yang ekspektasinya “6 bulan bisa ngobrol sama bule”
- Keluarga dengan budget terbatas (ada metode lebih murah yang sebanding)
Verdict Akhir
Kumon itu bukan cuma drilling grammar. Ia juga drilling kebiasaan, kedisiplinan, dan confidence. Tapi ya, bukan juga metode conversation. Ia memberikan fondasi yang kokoh, tapi lo harus bangun rumahnya sendiri.
Jadi, kalau lo mau anak bisa ngobrol lancar, Kumon saja nggak cukup. Tapi kalau lo mau anak punya land kuat dan kebiasaan belajar yang akan berguna seumur hidup, Kumon bisa jadi investasi yang sangat berharga—asal lo tahu cara pakainya.
Semoga review ini membantu lo bikin keputusan yang lebih tepat untuk buah hati. Ingat: yang paling penting bukan metodenya, tapi konsistensi dan dukungan lo di rumah. Good luck!